Organicfield’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Cara Jitu Membuat Kompos dan MOL

HASIL STUDI BP. TARMO IPPHTI LAMPUNG

Pupuk kompos saat ini banyak dicari dan digunakan oleh petani baik untuk budidaya tanaman sayuran maupun untuk tanama padi, tetapi seringkali petani menganggap bahwa pupk kompos hanya berasal dari kotoran hewan. Padahal bahan yang dapat digunakan sangat banyak dan tersedia dilingkungan sekitar seperti, daun-daunan, jerami dan sampah rumah tangga kecuali plastik. Cara membuatnya juga dilakukan secara sederhana seperti dibawah ini :

Membuat Stater / Bio

Bahan-bahan :

1. Nasi (tidak basi) jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan

2. Jamur (berwarna putih tipis menempel di kulit kayu/batang kelapa/ bambu / ranting bambu dall) jumlah disesuaikan dengan kebutuhan.

3. Besek (terbuat dari bambu) jumlah dissuaikan dengankebutuhan

4. Air jumlahnya disesuaikan kebutuhan

5. Gula merah 2 biji untuk pembuatan 1 toples

6. Sak / karung goni secukupnya.

Cara membuat :

1. Nasi dimasukan kedalam besek, lalau jamur ditaruh diatasnya, kemudian ditutup memakai sak/karung goni yang sudah dibasahi dengan air untuk menjaga kelembabapan, pertama keli buat waktunya 3 hari 3 malam. Bila besek dan jemur mau digunakan untuk membuat lagi, terlebih dahulu besek dicuci dan jamur dibasahi. Waktunya cukup 2 hari 2 malam. Bila dilihat diatas nasi kelihatan jamur putih seperti jamur yang ada di tempe.

2. Sak/tutup diangkat, kemudian jamur diambil. Selanjutnya nasi dimasukkan ke dalam toples ukuran 2 liter di tambah gulan merah 2 bija yang sudah dipotong-potong. Air diamsukkan samap rata dengan nasi. Untuk nasi dan air paling banyak sebatas toples dan ditutup rapat. Ciri-ciri stater jadi, nasi terapung dan setelah 5 hari dibuka baunya seperti air tape, siap digunakan untuk membuat kompos.

Cara membuat pupuk kompos.

Bahan-bahan

1. Kotoran hewan, jerami, dedaunan, batang pisang, batang jagung, sampah pekarangan, sekam, serbuk gergaji dll kecuali plastik.

2. Gula merah ¼ kg untuk stater / mol 2 liter

3. Stater / mol 1 toples / 2 liter untuk membuat 2 ton kompos

4. Air

5. Dedak / senil gergako la;ai ada

6. Cangkul / garpu

7. Bak/ ember

8. Daun pisang (kalau ada)

9. Plastik / terpal tambak

Cara membuat :

1. Gula merah dihaluskan/dilarut kan dengan air

2. Statater/mol dijadikan satu dengan larutan gula, ditambah air biasa dengan perbandingan (1 : 15) lalu diaduk sampai rata didalam bak.

3. Batang pisang, batang jagung dicacah, lalu bahan organik diratakan diatas tanah seitnggi kurang lebih 20 cm (dalam keadaan lembab).

4. Selanjutnya stater/mol, ditaburkan/dipercikan sampai rata, lalau ditaburi dedak / serbuk gergaji.

5. Berikutnya bahan organik diratakan diatasnya setinggi 20 cm dan ditaburi/diperciki mol samapi rata, lalu dedak ditabukan diatasnya, begitu seternya.

6. Selanjutnya ditutup pakai daun pisang kalau ada, kemudian ditutp pakai plastik / terpal tambak.

7. Setelah 1 minggu dilakukan pembalikan/pengadukan. Minggu ke 2 diaduk lagi. Bila dipandang perlu pengadukan 1 dan 2 bisa ditambah stater/mol lagi. Minggu ke 3 diaduk lagi tidak perlu ditutup ditaruh di tempat yang teduh (tidak kena hujan) selama 1 minggu, dan kompos sudah siap aplikasi.

Membuat PPC

Serabut kelapa muda / blukluk, buah-buahan yang manis, pucuk daun-daunan, urin ternak bonggol dan hati batang pisan, sisa-sia makanan, berbagai tulang-tulanan, air kelapa / legent dan abu dapur. (perbandingan 1:1)

Cara membuat :

1. Semua bahan di iris tipis-tipis kecuali abu dapur dan sisa makanan, bahan yang sudah disiapkan masukan ke dalam toples dan tambahkan air nira/legent lalu tutup rapat dengan menggunakan plastic.

2. Biarkan rendaman selama 2 – 3 minggu juka diguankan untuk bio stater dalam pengomposan. Dan jika diguankan untuk pupuk pelengkap cair makan rendaman haus lebih dari 4 minggu.

3. Cara penggunaan ambil air rendaman lalu disaring dan campur dengan air biasa, dapat disirmkan langsung atau disemprotkan ke tanaman, dengan perbandingan 1 : 1 untuk tanaman padi sawah (mengurangi penggunaan pupuk kompos). 1 : 5 sleain tanamapan padi sawah.

Kompos bernutrisi tinggi

Bahan-bahan :

Jerami, batang jagung, sekam, serbuk gergaji, batang pisang, daun-daunann, kotoran sapi, kerbau, kambing, kelinci, dan sampah lingkungan keculai plastik, bak plastik, ember plastik, cangkul / gapu, daun pisang, plastik / terpal tambak.

Cara buat :

1. Dari kedua jenis stater / mol ini dicampu jadi satu dengan perbandingan 1 : 1 lalu diaduk sampai rata.

2. Proses membuatnya sama dnegan mebuat kompos menggunakan stater/mol dari nasi dan jamur. Lebih banyak mol dari buah-buahan lebih baik.

Dibuat dan dikembangkan oleh :

Tarmo :

Koordinator 1 IPPHTI Lampung

d/a : Jalan kartini Rt. 01 suku 1 kampung makarti kec. Tumijajar. Kab. Tulang bawang Prop. Lampung

September 27, 2008 Posted by | 1 | Leave a Comment

Pembuatan Starter/MOL (Mikro Organisme Lokal) Oleh Petani

Sebagai petani organik, kompos merupakan pupuk yang sering diaplikasikan ke lahan, dan untuk membantu proses dekomposisi bahan-bahan organik menjadi kompos, diperlukan bahan-bahan dekomposer. Berbagai macam bahan-bahan dekomposer banyak beredar di pasar (seperti EM4). Petani yang ingin mandiri tidak ingin selalu bergantung dengan pihak lain, terutama pihak-pihak penyedia sarana produksi pertanian.

“Kalau kita bisa bikin EM4, kenapa kita harus beli? EM4 itu kan sama saja dengan MOL, dari baunya kan sudah sama,” ungkap Kariman, Lakbok. Dari sinilah ide mengkaji bagaimana membuat atau menghasilkan mikroorganisme lokal atau lebih sering dikenal dengan nama MOL. Dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar, petani-petani kreatif di Ciamis membuat MOL dari bahan-bahan seperti buah-buahan busuk (pisang, pepaya, mangga, dll), rebung, pucuk tanaman merambat, tulang ikan, keong, urine sapi, bahkan sampai urine manusia, darah hewan, bangkai hewan, air cucian beras, dan sisa makanan.

“Sekarang saya kalau kencing selalu ditampung, urinenya buat disiram ke sawah, hasilnya padinya jadi bagus,” ujar Cicih, petani anggota KSP Alam Sejati, Panumbangan. Hal serupa juga diungkapkan oleh H. Eha, Aam Amalia, anggota KSP Alam Sejati yang lain. “Cara membuat MOL itu mudah, semua yang ada di sekitar kita bisa dipakai, semua bahan dicampur dengan yang manis-manis seperti air nira, air gula, air kelapa juga bisa. Lalu ditutup dengan kertas, dibiarkan sampai 7 hari. Setelah itu dipakai untuk nyemprot ke sawah”, jelas Sutar, KSP Bumi Sejati, Banjarsari yang disebut sebagai “profesor” oleh teman-temannya, karena keahliannya meramu berbagai bahan menjadi MOL, bahkan mengatakan bahwa MOL baik juga untuk diminum oleh manusia.

May 6, 2008 Posted by | seputar organik | , , | 15 Comments

Pembuatan Pupuk Kompos Ala Petani

Menurunnya produktivitas padi, juga diikuti oleh meningkatnya kebutuhan akan pupuk kimia yang kian bertambah dari tahun ke tahun. Saya pernah pakai urea sampai 3 kuintal per 100 bata, uang setengah juta habis hanya untuk beli urea. Tapi sekarang saya pakai pupuk organik buatan sendiri, pengeluaran jadi berkurang,” tutur H. Diah, suami H.Eha yang menjadi bendahara KSP Alam Sejati, Panumbangan.

Posisi petani yang selalu menjadi pihak yang tidak bisa menentukan harga produknya, menyebabkan petani selalu miskin. Dengan pemanfaatan sumber daya lokal yang ada di sekitarnya, diharapkan petani dapat mengurangi biaya pembelian sarana produksi pertanian yang sebenarnya bisa diproduksi oleh petani itu sendiri.

Petani mengganti pupuk kimia yang tidak dapat diproduksinya, dengan pupuk organik yang berasal dari bahan-bahan yang ada di sekitarnya tanpa mengeluarkan biaya banyak. Sehingga petani bisa menambah penghasilannya. Pupuk organik yang digunakan berasal dari kotoran hewan (kambing, sapi, kerbau, kelinci, dan lain-lain), jerami, hijauan, sekam, serbuk gergaji, dan sebagainya.

Bahan-bahan organik ini dicampur menjadi satu, dengan tambahan mikroorganisme lokal (MOL) untuk membantu proses dekomposisi, kemudian ditutup dengan plastik, karung, jerami, atau apa saja yang bisa digunakan sebagai penutup. Setelah itu, dilakukan pembalikan seminggu sekali. Kompos yang sudah jadi ditandai dengan suhunya yang tidak lagi tinggi, sudah adem lah,” ungkap Ngadiman, KSP berkah Family, Lakbok yang memiliki bak kompos di depan rumahnya. Bak kompos ini fungsinya seperti bak sampah organik. Setiap ada bahan-bahan hijauan atau apa saja yang bisa jadi kompos, saya masukkan ke bak ini. Biasanya satu bulan sudah jadi,” lanjutnya.

Ide Ngadiman untuk membuat bak kompos, diikuti oleh teman-temannya sesama anggota KSP. “Saat ini sudah ada 7 orang yang punya bak kompos. Jangan ngaku petani organik kalo tidak punya bak kompos,” ungkapnya.

Bak kompos yang terbuat dari beton ini, memang dibuat permanen. Ini merupakan salah satu bentuk investasi petani di dalam penyediaan pupuk organik. Petani bisa menampung bahan-bahan organik sedikit demi sedikit, sehingga dengan begitu tidak akan terasa berat di dalam penyediaan pupuk organik. Banyak yang mengatakan berorganik itu berat, merepotkan dan bahannya sulit didapat. Itu karena mereka melakukan pencarian bahan organik selama satu hari penuh misalnya. Kalau mereka mengumpulkan bahan organik dengan cara dicicil, misalnya setengah jam sehari, hal ini tidak akan terasa berat,” ungkap Enceng Asikin selaku pemandu.

Setiap KSP yang mendapat sapi, memiliki kompos bersama yang berasal dari kotoran sapi mereka. Disinilah peran “koperasi pupuk organik”, tujuannya agar anggota KSP tidak kesulitan dalam mendapatkan bahan-bahan untuk pupuk organik. Namun, saat ini, jumlah pupuk organik yang ada belum mencukupi untuk semua anggota. Kalau di KSP kami, pupuk organik tersebut digunakan oleh anggota yang mau mengambilnya, kalau yang lokasi sawahnya jauh dari kandang kan malah tambah biaya angkut. Sementara karena jumlahnya juga belum banyak, secara bergilir setiap musim, anggota yang sawahnya dekat kandang boleh memanfaatkan pupuk organik tersebut,” jelas H. Nurudin, Ketua KSP Bumi Sejati, Banjarsari.

Berbeda dengan KSP Bumi Sejati, KSP Alam Sejati, Panumbangan memnafaatkan pupuk organik buatan mereka untuk sawah garapan kelompok. “Kami kan punya garapan, bagi hasil dengan H.Uju, lahan tersebut juga untuk belajar. Pupuk organiknya kami memanfaatkan sapi yang kami miliki,” ungkap Lia, selaku sekretaris dan pengurus sapi. Tapi anggota juga ada yang mengambil sedikit pupuk organik itu untuk memupuk tanaman sayur dan bunga di rumah masing-masing,” lanjutnya.

Hal serupa juga terjadi di KSP Barokah Rahayu, Jangraga. “Karena jumlah belum banyak, kami gunakan untuk studi di lahan garapan kelompok saja dulu,” tutur Sarjan, sang bendahara. “Sedangkan kalau urine sapinya, banyak anggota yang mengambil untuk sawahnya masing-masing,” lanjutnya. Sementara di KSP Berkah Family, Lakbok, yang memiliki banyak lahan garapan, dan juga memiliki kebun sayuran kelompok, pupuk yang dihasilkan dari sapi bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. “Kami terpaksa membeli kotoran kambing dari Pak Dusin,” tutur Kariman.

 

May 6, 2008 Posted by | seputar organik | | Leave a Comment

Field Indonesia’s Profile

PROFIL YAYASAN FIELD INDONESIA

Farmers’ Initiative for Ecological Livelihood and Democracy

“Melayani gagasan masyarakat perdesaan, mendukung kehidupan bermasyarakat yang berwawasan lingkungan dan demokratis

FIELD Indonesia adalah lembaga yang bergerak di bidang pendidikan pemberdayaan masyarakat. Pendekatan yang selalu dipergunakan FIELD Indonesia adalah pendekatan Sekolah Lapangan dan Pendidikan Riset Aksi. Pendekatan Sekolah Lapangan di Indonesia sudah dikembangkan sejak tahun 1990 dalam Program Nasional Pengendalian Hama Terpadu (National IPM Program), dimana personel FIELD selama lebih 10 tahun sebagai anggota Tim Bantuan Teknis dalam program tersebut.

Sosok Sekolah Lapangan merupakan “sekolah tanpa dinding” sehingga ruang kelas, sekaligus perpustakaan, adalah lahan (sawah, realita) itu sendiri. Dalam Sekolah Lapangan, peserta berkumpul secara rutin – satu kali seminggu, misalnya – selama satu musim atau periode tertentu untuk mengamati dan menganalisa perkembangan topik yang dipelajari. Sekaligus mereka mendalami berbagai prinsip yang terkait dengan perkembangan topik yang dipelajarinya melalui eksperimen-eksperimen yang mereka lakukan sendiri. Jadi, Sekolah Lapangan memberikan kesempatan peserta (petani) untuk berperan aktif sebagai pelaku, peneliti, pemandu, dan manajer lahan yang ahli.

Kurikulum Sekolah Lapangan selain terdiri dari kegiatan pokok, serangkaian kegiatan (topik khusus) dilakukan sesuai dengan masalah-masalah khusus yang dihadapi di setiap tempat. Materi pengembangan manusia tidak kalah penting dibandingkan dengan ilmu lain – pertanian, misalnya – dalam penyelenggaraan Sekolah Lapangan, sebagaimana tercermin dalam kegiatan perencanaan, dinamika kelompok, dsb. Oleh karenanya, sejak awal petani dipandang sebagai kunci keberhasilan dan sumber daya manusia yang paling potensial. Dengan kata lain misalnya, untuk mencapai “pertanian tangguh” mutlak diperlukan adanya “petani tangguh”. Dalam pandangan ini, petani dilihat sebagai “pelaku utama” dan manajer di lahannya sendiri. Itulah sebabnya keseluruhan pola Sekolah Lapangan dirancang sedemikan rupa sehingga terbuka selebar-lebarnya kesempatan belajar agar para petani berinteraksi dengan realita mereka secara langsung serta menemukan sendiri ilmu dan prinsip yang terkandung di dalamnya.

Pendekatan Sekolah Lapangan dan Pendidikan Riset Aksi ini terus dikembangkan karena dilandasi pemikiran bahwa masyarakat/petani mampu melakukan sendiri dan mampu menguasai pengetahuan yang diperolehnya. Dalam Sekolah Lapangan, pengalaman petani dihargai sebagai sumber pengetahuan dan keberlanjutannya merupakan pusat perhatian dari petani. Pendekatan Sekolah Lapangan berpijak kepada beberapa prinsip dasar, antara lain ialah:

  • Pengetahuan itu berlandaskan dan diperoleh dari pengalaman melakukan dan menemukan sendiri secara langsung.
  • Pengalaman bersama bersifat memberdayakan dan menyumbang pada penguatan masyarakat setempat.
  • Petani belajar dari sesama petani berdasarkan kaidah pendidikan orang dewasa.
  • Petani belajar untuk berkembang dalam sebuah proses transformasi (penyadaran baru).
  • Petani belajar dengan memanfaatkan ilmu dan pengetahuan yang mutakhir.
  • Pengumpulan data dan keputusan hasil kajian bersama oleh petani menjadi dasar untuk penerapan di lapangan, yang pada gilirannya akan menjadi sumber pengalaman baru untuk dikaji di kemudian hari.

Melalui pendekatan Sekolah Lapangan dan Pendidikan Riset Aksi, FIELD memfasilitasi masyarakat agar:

  • Mampu menganalisis dan memahami situasi ekosistem perikehidupannya, baik dari aspek teknis maupun aspek sosial-ekonomi
  • Mampu mengorganisir diri untuk melakukan aksi-aksi untuk membangun perikehidupan masyarakat yang lebih ekologis dan demokratis

Dalam rangka memperlancar proses belajar dalam Sekolah Lapangan, pada tahap awal dirancang kegiatan Pelatihan Pemandu Lapangan yang bertujuan mempersiapkan pemandu-pemandu yang trampil memandu pelaksanaan Sekolah Lapangan, hingga pada tahap implementasi pasca tahap Sekolah Lapangan.

Tahapan Pendidikan Pemberdayaan Masyarakat melalui Pendekatan
Sekolah Lapangan (SL)

Tahap Pelatihan Pemandu Lapangan SL

(Training of Trainers)

Tahap Pelaksanaan
Sekolah Lapangan

(selama semusim/ 1 siklus)

Tahap Implementasi
Hasil Belajar oleh Peserta SL

Untuk mendukung misi ini, FIELD bergerak dengan beberapa modal utama, yaitu:

1. Keahlian

Personel FIELD memiliki keahlian di bidang pendidikan pemberdayaan masyarakat: pendidikan riset aksi, advokasi, gender, sains petani, media komunikasi rakyat, perencanaan dan evaluasi partisipatoris, serta teknis pertanian ekologis/organis: budidaya tanaman sehat, ekologi lahan, ekologi tanah, pemuliaan & konservasi tanaman dan SRI – system of rice intensification.

2. Pengalaman

FIELD terbentuk tanggal 1 Juli 2001, namun sebelum itu para personel FIELD telah lama bekerja di bawah payung FAO-Technical Assistance for National IPM Program in Indonesia serta The FAO Programme for Community IPM in Asia semenjak 1989. Selama kurun waktu tersebut staf FIELD intensif merancang, menjalankan, mengelola, serta mengevaluasi program pendidikan pemberdayaan petani di 12 propinsi lumbung pertanian di Indonesia, serta mendukung program serupa di 11 negara Asia lainnya.

3. Jaringan

Selama perjalanan mendukung gerakan masyarakat, semenjak dari Program FAO hingga kini, FIELD banyak bekerjasama dengan berbagai pihak, baik Jaringan Masyarakat Pedesaan, LSM, Lembaga Pemerintah, Universitas, Lembaga Penelitian, maupun Jaringan Pemandu Lapangan, baik dari dalam maupun luar negeri, seperti: IPPHTI (Ikatan Petani PHTI Indonesia) yang jumlahnya tidak kurang dari 1 juta petani di 11 propinsi di Indonesia, 26.000 diantaranya berkemampuan sebagai Petani Pemandu; JARKAM (Jaringan Kampung untuk Pengelolaan DAS Tondano). Koalisi Rakyat untuk Hak Atas Air; INSIST; IGJ; Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan; LPS-HAM; Bantaya; WE dan jaringannya; CARE Bangladesh; CUSO, ALTERNATIVES, ETADEP, HALARAE, PPRDI; ESP-USAID; PAN-AP; Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian – Deptan Indonesia; Departemen Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Timor Leste; Victoria Government of Australia; Agriculture, Fisheries and Forestry of Australia (AFFA); Universitas Sam Ratulangi; IPB, Clemson University; Balitsa; Balitpa; Balitbio; BPTPH; International Plant Genetic Resources Institute (IPGRI); Center for Genetic Resources of the Netherland (CGN); CIP-UPWARD; IIED; serta Pemandu Lapangan PHT Indonesia (sekitar 1500 Petugas Pertanian (PHP) yang berpengalaman memfasilitasi Sekolah Lapangan, 150 diantaranya memiliki pengalaman managerial mengelola program pelatihan, dan tak kurang dari 30 orang diantaranya berpengalaman melatih di luar negeri; dan The “A-Team” (jaringan Pemandu Lapangan PHT dari negara-negara Asia).

FIELD Indonesia sendiri merupakan jaringan dari The FIELD Alliance bersama dengan Srer Khmer (Cambodia), PEAC (China), dan Thai Education Foundation (Thailand).

4. “Dapur” untuk pengembangan metodologi baru:

Hingga saat ini, FIELD terus melakukan berbagai pengembangan metodologi di lapangan, bersama-sama dengan masyarakat pedesaan di beberapa kabupaten. Kegiatan ini berfungsi sebagai “dapur” untuk menguji dan mengolah hal-hal baru, yang nantinya bisa disebarluaskan di lokasi-lokasi lain.

Beberapa pengembangan yang dilakukan FIELD antara lain:

  • Pengembangan Sekolah Lapangan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai: Masyarakat di daerah hulu sungai dan sumber air melakukan pengkajian Perikehidupan Masyarakat dan Aksi pelestarian dan rehabilitasi hutan, lahan kritis, sumber air, pembibitan masyarakat, dan kampanye kesehatan terkait air. SL Pengelolaan DAS yang bertumpu pada upaya masyarakat ini ditunjang oleh Program Jasa Lingkungan (ESP) – USAID. Program pelatihan bagi staf lapangan ESP dan mitra dilakukan di Sukarami – Solok 2 Juli – 17 September 2006 untuk diterapkan di 6 propinsi dari Aceh hingga Jawa Timur.
  • Pendidikan Advokasi Masyarakat Perdesaan untuk Perubahan Kebijakan Lokal: Masyarakat melakukan riset aksi atas isu-isu penghidupan mereka, menganalisisnya dari berbagai sudut pandang (kebijakan, perilaku aparat, swasta, dan masyarakat, serta faktor alam), kemudian mengorganisir dialog dengan DPRD dan Pemkab untuk mengupayakan perbaikan keadaan. Lokasi: Kabupaten Tulang Bawang-Lampung, Banjarnegara, Temanggung (Jawa Tengah), Jombang dan Lumajang (Jawa Timur).
  • Budidaya Padi secara Ekologis (Eco-rice): Sistem ini juga dikenal sebagai SRI (System of Rice Intensification). Petani mempelajari bagaimana tanaman padi dapat tumbuh sehat mendekati kapasitas maksimum genetisnya. Hal yang dieksplorasi antara lain: umur bibit, jumlah bibit, kedalaman tanam, jarak tanam, pengelolaan air serta penggunaan bahan organik. Lokasi: Indramayu, Ciamis, Tasikmalaya, Gunung Kidul, Pasuruan, Lumajang, Tanggamus, Poso.
  • Pemuliaan dan Penganekaragaman Benih oleh Petani: Petani mempelajari bagaimana melakukan pemuliaan tanaman padi dan sayuran lokal melalui persilangan, seleksi, evaluasi, rehabilitasi dan koleksi. Tujuannya adalah agar petani mampu menguasai kembali ilmu pemuliaan, serta untuk mengembalikan dan melestarikan kekayaan keragaman genetic tanaman padi dan sayuran lokal yang telah banyak mengalami “erosi genetik” akibat introduksi varietas padi “unggul” dan sayuran eksotik. Program ini dikembangkan di Indramayu, dan merupakan bagian dari Program PEDIGREA yang juga dilakukan di Cambodia dan Filipina.
  • Pengembangan Pertanian Organis: Pertanian “modern” dengan penggunaan input kimiawi tinggi menyebabkan pertanian menjadi tidak berkelanjutan (unsustainable). Untuk merespon hal ini, jaringan petani di kabupaten Tanggamus dan Tulang Bawang (Lampung) bersama FIELD mengembangkan pertanian organis. Yang dikembangkan tidak hanya menghasilkan produk organis, namun juga mengembangkan “intelektual organis”, yaitu petani yang paham mengapa gerakan organis itu penting, paham bagaimana ekosistem bekerja sehingga tanaman bisa tumbuh secara organis, serta paham bagaimana melakukan pendidikan bagi petani lain.

Selain hal-hal di atas, FIELD juga mengembangkan beberapa hal baru lainnya, antara lain: Program Sistem Pangan Lokal dan Keanekaragaman Hayati Pertanian, dimana masyarakat belajar untuk membangun dan mengelola sistem produksi, penyediaan, dan pemasaran pangan sehat secara lokal.

Kontak:

Nugroho Wienarto – Direktur (Hp. 0811-973008; Email: nugie63@yahoo.com)

Sekretariat FIELD Indonesia, Komplek TNI AL Jl. Teluk Jakarta No 1 Rawabambu Jakarta Selatan; Email: fieldind@indosat.net.id

May 6, 2008 Posted by | Field's Profil | | Leave a Comment

Dasar Pertanian Organik di Lampung

Yang mendasari program ini berasal dari 3 faktor yakni faktor Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manuasia dan kebijakan dari pemerintah lokal.

Kondisi alam yang dialami oleh masyarakat petani Lampung adalah semakin menurunnya kesuburan tanah yang diikuti dengan kerusakan tanah (pecah-pecah, keras, liat dll) akibat dari penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus oleh petani. Selain itu, tingginya ketergantungan petani terhadap penggunaan pupuk kimia dan diikuti semakin tingginya kebutuhan penggunaan pupuk kimia dari musim ke musim. Kebutuhan air semakin banyak pada setiap musim tanam akibat dari tanah yang sudah tidak mampu untuk mengikat air. Dan kerusakan tanaman akibat dari serangan hama dan penyakit semakin sulit dikendalikan karena keseimbangan ekosistem yang mulai terganggu.

Faktor yang berasal dari SDM nya adalah rendahnya pengetahuan dan pemahaman petani terhadap kondisi tanah. Semakin tingginya ketergantungan petani terhadap sarana produksi kimia (benih, pupuk dan pestisida) akibat dari berbagai tekanan kebijakan. Selain itu hilangnya kreatifitas petani dalam menghadapi dan menyelesaikan persoalan usaha tani serta cenderung menggunakan hal-hal yang bersifat praktis dan kurangnya kesadaran petani akan bahaya dari penggunaan bahan kimia bagi lahan usaha tani, lingkungan dan manusia.

Faktor yang ketiga adalah factor kebijakan dari pemerintah daerah setempat yang menetapkan harga sarana produksi semakin mahal (Benih, Pupuk dll) yang tidak sebanding dengan harga jual hasil produksi pertanian. Belum lagi harga jual hasil produksi dari petani masih sangat jauh dari harga standar yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Pemerintah daerah dengan sengaja menjauhkan petani dalam pengelolaan Sumber Daya Agraria serta sebagai produsen dijauhkan dari konsumen, hal mengakibatkan posisi petani yang semakin sulit untuk berkembang dan mandiri. Selain itu rekomendasi dan paket-paket Teknologi yang berskala Nasional sangat tidak sesuai dengan kondisi lokal, hal ini menimbulkan petani sebagai konsumen teknologi secara terus menerus tanpa diberi kesempatan untuk mengembangkan kreatifitasnya. Kebijakan pembangunan pertanian yang masih berorientasi pada peningkatan produksi dengan berbagai cara yang dilakukan, sementara pemerintah tidak mampu untuk menghargai hasil produksi yang telah dihasilkan oleh petani.

Dengan adanya kondisi seperti diatas, maka Field Indonesia dengan Jaringan IPPHTI Propinsi Lampung merancang kegiatan/program yang mendapat dukungan dari HIVOS-Belanda. Kesepakatan pemecahan masalah tersebut diantaranya: Perlu adanya sebuah cara/metode untuk membangun kesadaran petani agar mampu mengelola dan mengembalikan kesuburan tanah sebagai tempat berusaha tani secara berkelanjutan; Perlu adanya sebuah pelatihan pengelolaan dan pemanfaatan pupuk organik yang ada disekitar petani, hal ini dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pupuk kimia dan menuju pertanian yang lebih sehat dan aman untuk dikonsumsi; Perlu diadakan studi-studi oleh kelompok-kelompok petani dan dikelola oleh petani sendiri, hal ini bertujuan untuk merubah pola pikir dan meningkatkan kreatifitas petani; dan Perlu adanya sosialisasi kepada petani, masyarakat dan konsumen akan bahaya mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung bahan kimia

May 6, 2008 Posted by | dasar pertanian organik | | Leave a Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.