Cara Jitu Membuat Kompos dan MOL

GUCIHASIL STUDI BP. TARMO IPPHTI LAMPUNG

Pupuk kompos saat ini banyak dicari dan digunakan oleh petani baik untuk budidaya tanaman sayuran maupun untuk tanama padi, tetapi seringkali petani menganggap bahwa pupk kompos hanya berasal dari kotoran hewan. Padahal bahan yang dapat digunakan sangat banyak dan tersedia dilingkungan sekitar seperti, daun-daunan, jerami dan sampah rumah tangga kecuali plastik. Cara membuatnya juga dilakukan secara sederhana seperti dibawah ini :

Membuat Stater / Bio Continue reading

Pembuatan Starter/MOL (Mikro Organisme Lokal) Oleh Petani

OBSERV16Sebagai petani organik, kompos merupakan pupuk yang sering diaplikasikan ke lahan, dan untuk membantu proses dekomposisi bahan-bahan organik menjadi kompos, diperlukan bahan-bahan dekomposer. Berbagai macam bahan-bahan dekomposer banyak beredar di pasar (seperti EM4).Petani yang ingin mandiri tidak ingin selalu bergantung dengan pihak lain, terutama pihak-pihak penyedia sarana produksi pertanian.

“Kalau kita bisa bikin EM4, kenapa kita harus beli? EM4 itu kan sama saja dengan MOL, dari baunya kan sudah sama,” ungkap Kariman, Lakbok.Dari sinilah ide mengkaji bagaimana membuat atau menghasilkan mikroorganisme lokal atau lebih sering dikenal dengan nama MOL.Dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar, petani-petani kreatif di Ciamis membuat MOL dari bahan-bahan seperti buah-buahan busuk (pisang, pepaya, mangga, dll), rebung, pucuk tanaman merambat, tulang ikan, keong, urine sapi, bahkan sampai urine manusia, darah hewan, bangkai hewan, air cucian beras, dan sisa makanan. Continue reading

Pembuatan Pupuk Kompos Ala Petani

LEARNFL1Menurunnya produktivitas padi, juga diikuti oleh meningkatnya kebutuhan akan pupuk kimia yang kian bertambah dari tahun ke tahun.“Saya pernah pakai urea sampai 3 kuintal per 100 bata, uang setengah juta habis hanya untuk beli urea.Tapi sekarang saya pakai pupuk organik buatan sendiri, pengeluaran jadi berkurang,” tutur H. Diah, suami H.Eha yang menjadi bendahara KSP Alam Sejati, Panumbangan.

Posisi petani yang selalu menjadi pihak yang tidak bisa menentukan harga produknya, menyebabkan petani selalu miskin.Dengan pemanfaatan sumber daya lokal yang ada di sekitarnya, diharapkan petani dapat mengurangi biaya pembelian sarana produksi pertanian yang sebenarnya bisa diproduksi oleh petani itu sendiri. Continue reading

Field Indonesia’s Profile

Farmers’ Initiative for Ecological Livelihood and Democracy

“Melayani gagasan masyarakat perdesaan, mendukung kehidupan bermasyarakat yang berwawasan lingkungan dan demokratis

Sekolah LapanganFIELD Indonesia adalah lembaga yang bergerak di bidang pendidikan pemberdayaan masyarakat.Pendekatan yang selalu dipergunakan FIELD Indonesia adalah pendekatan Sekolah Lapangan dan Pendidikan Riset Aksi.Pendekatan Sekolah Lapangan di Indonesia sudah dikembangkan sejak tahun 1990 dalam Program Nasional Pengendalian Hama Terpadu (National IPM Program), dimana personel FIELD selama lebih 10 tahun sebagai anggota Tim Bantuan Teknis dalam program tersebut.

Sosok Sekolah Lapangan merupakan “sekolah tanpa dinding” sehingga ruang kelas, sekaligus perpustakaan, adalah lahan (sawah, realita) itu sendiri.Dalam Sekolah Lapangan, peserta berkumpul secara rutin – satu kali seminggu, misalnya – selama satu musim atau periode tertentu untuk mengamati dan menganalisa perkembangan topik yang dipelajari.Sekaligus mereka mendalami berbagai prinsip yang terkait dengan perkembangan topik yang dipelajarinya melalui eksperimen-eksperimen yang mereka lakukan sendiri.Jadi, Sekolah Lapangan memberikan kesempatan peserta (petani) untuk berperan aktif sebagai pelaku, peneliti, pemandu, dan manajer lahan yang ahli. Continue reading

Dasar Pertanian Organik di Lampung

img_4063Yang mendasari program ini berasal dari 3 faktor yakni faktor Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manuasia dan kebijakan dari pemerintah lokal.

Kondisi alam yang dialami oleh masyarakat petani Lampung adalah semakin menurunnya kesuburan tanah yang diikuti dengan kerusakan tanah (pecah-pecah, keras, liat dll) akibat dari penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus oleh petani.Selain itu, tingginya ketergantungan petani terhadap penggunaan pupuk kimia dan diikuti semakin tingginya kebutuhan penggunaan pupuk kimia dari musim ke musim.Kebutuhan air semakin banyak pada setiap musim tanam akibat dari tanah yang sudah tidak mampu untuk mengikat air.Dan kerusakan tanaman akibat dari serangan hama dan penyakit semakin sulit dikendalikan karena keseimbangan ekosistem yang mulai terganggu. Continue reading